Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 November 2012

Jatuh, cinta!




ya perlahan punggungmu pun ikut menghilang dari sudut mataku. Sekali lagi. Ini murni kesalahanku. Fatal. Sangat sulit untuk membuatmu kembali ke sampingku lagi. Bahkan kini dengan satu matapun aku mampu melihat kamu benar mencoba menghilang dariku.

Maaf. Aku tidak tahu benar bagaimana caranya membuatmu memandangku lagi. Membuatmu memanggilku sayang. Membuatmu benar-benar mabuk karena cintaku. Aku ingin semuanya kembali lagi. Kembali seperti dulu. Seperti ketika kau benar-benar berada satu langkah dibelakangku untuk menjagaku. Atau ketika aku merasa aman selalu berjalan didepanmu. Didepan mata pengelihatanmu, tanpa benteng apapun.

"Lihatlah senja kali ini. Indah." Kata Rayya.
 "Ya, seindah dirimu." Fathan menatap sudut mata kanan Rayya.
 "Dua burung itu juga tak kalah indahnya. Terbang bersama. Sepertinya mereka sangat bergembira memutari langit senja yang indah hanya berdua." Rayya membentuk tangannya menyerupai burung terbang. Matanya menggeliat mengikuti tubuh dua binatang berwarna putih itu mengelilingi langit indah ketika senja tak kunjung menghilang.
 "Seperti kita sekarang. Burung-burung itu juga mengatakan mereka sedang melihat dua orang yang sedang menikmati senja. Mereka menatap kita dan berkata indah. Ya, seindah mereka." Fathan merangkulkan tangannya ke pundak Rayya.

Lengang. Rayya menatap lekat kembali dua burung itu. Namun sesekali sudut matanya melirik ke tangan Fathan yang sedari tadi menyemtuh pundaknya. Hangat. Rayya merasakan kehangatan mendalam dalam dirinya. Keindahan selalu melekat padanya ketika dia berada disamping laki-laki itu. Fathan. Memang hanya Fathan yang selalu membuatnya terbang seperti burung-burung itu setiap senja.

"Lihat burung itu, Than. Mereka terbang berlawanan arah." Tangan Rayya menunjuk pada kedua burung yang sedari tadi menghiasi senja.
"Iya."
"Apa kita juga harus pergi berlawanan arah?" Suara Rayya membuat Fathan tertegun dan suaranya seperti mendadak menghilang. Tatapan kosongnya mengarah tepat pada mata Rayya.
"Tidak."
"Sebaiknya memang kita harus pergi berlawanan arah."
"Tidak. Kita akan selalu berjalan beriringan."
"Tapi kedua burung tadi berpisah."
"Kita bukan mereka."
"Jangan pernah cintai aku lagi, Than."

Semuanya terasa menyakitkan. Ketika aku merasa aku tidak ingin terjatuh dan terpuruk kehilanganmu, aku justru melakukan sesuatu yang membuatku benar-benar akan kehilanganmu. Aku salah. Aku melakukan kesalahan lagi. Satu. Kali ini hanya satu. Tapi esok, lusa, dan seterusnya akan bertambah banyak dan aku akan kehilanganmu semakin cepat.

Bukan maksudku seperti itu. Aku hanya takut, ketika kamu benar-benar mencintaiku tapi aku tidak membalasnya dengan baik. Aku takut mengecewakanmu. Aku takut, sayang. Aku tidak pernah membayangkan ketika suatu saat aku harus kehilanganmu dimana cinta dalam hati ini sudah benar-benar tumbuh dan bermekaran. Aku tidak ingin. Aku tidak mau. Sebenarnya aku tidak ingin kehilanganmu.

"Than, maaf."
"Kenapa?"
"Entah."
"Kamu dulu yang pernah bilang aku tidak boleh mencintaimu. Tapi apa yang terjadi? Justru setiap kali aku sedang mencoba, kamu datang dan membuatku semakin dalam mencintaimu."
"Maaf."
"Bahkan hanya dengan mendengar kata maaf darimu, hatiku seolah tergetar dan semakin ingin memilikimu."
"Maafkan aku."
"Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Tetap harus melupakanmu dan pergi atau aku sudah diberi ijin untuk tetap mencintaimu?"

 
Lalu kini apa yang harus aku katakan? Tetap mempertahankanmu atau aku segera melewatkanmu? Bantu aku. Aku melakukan semuanya hanya untukmu.

"Maaf, aku tetap harus pergi."

***
Tangga -Terbaik Untukmu
Aku ingin kau tetap di sini bersamaku, Jangan pergi
Kadang aku merasa sangat egois saat menyuruhmu tetap disini
Tapi percayalah akulah yang terbaik :)

Minggu, 04 November 2012

goodbye


Senja menimbulkan kesunyian diantara keduanya. Matahari masih enggan pergi. Luna masih saja terdiam dengan raut muka tidak seperti biasanya. Sementara Farhan masih saja menatap kedepan. Taman kota sore itu sangat riuh, namun situasi itu tidak membuat Luna dan Farhan turut meramaikannya. Bungkam. Tidak seorang dari mereka berdua mampu berkata-kata.

"Kenapa, Lun?" Farhan mulai berani mengeluarkan suaranya. "Aku masih tidak mengerti."
"Intinya, kamu jangan pernah suka denganku." Luna menyenderkan kepalanya dibahu Farhan. Cercah matahari yang menguning terlihat sedikit redup dan mulai memudar.
"Kenapa, Lun? Apa alasannya?" Tangan Farhan mulai mengelus rambut indah Luna.
"Karena kamu, Farhan."
"Lalu aku harus bagaimana? Lalu harus aku apakan perrasaan ini?"
"Buang." Luna kembali menegakkan tubuhnya. Dia berdiri dan berjalan menuju sebuah pohon besar tempat dia meletakkan ranselnya.
"Bagaimana caranya aku membuang perasaan ini?" Farhan berjalan mengikuti langkah Luna.
"Aku tidak tahu." Luna berjalan lebih cepat dan hilang begitu saja dari hadapan Farhan.

Matahari masih saja berwarna orange. Farhan tidak mampu lagi melihat sosok Luna, gadis yang selama ini selalu mengisi hari-harinya. Luna. Ya, Farhan sangat mencintai Luna. Sangat.

***

"Lun, aku mau tanya sesuatu." Aku ingat sekali kata-kata itu. Kata-kata yang membuatku berpikir seribu kali untuk menjawabnya. 
"Kamu tau, Han? Aku pernah bilang, jika kamu bertanya padaku, kamu harus memilih waktu yang tepat."
"Aku ingat."
"Apa kamu pikir ini waktu yang tepat?"
"Ya."
Kamu tahu, Han, saat itu aku merasa bukan waktu yang tepat.
"Apa aku boleh suka denganmu?"
Dan benar, Han. Itu bukan waktu yang tepat.

***

"Intinya masih sama, jangan pernah kamu suka denganku." Luna menatap Farhan yang kala itu sedang duduk di teras rumah Luna.
"Kenapa, Lun. Beri aku satu alasan yang kuat, agar aku bisa menerima permintaanmu itu." Farhan menatap mata Luna dengan lekat.
"Karena kamu, Han."
"Aku kenapa, Lun?"
"Aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku takut kamu pergi dari sini, suatu hari nanti."
"Tidak akan, Lun. Kamu harus percaya denganku."
"Tidak." Luna berdiri menatap Farhan. "Aku takut kehilanganmu."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Buang perasaan itu. Untukku."
"Tidak bisa."
"Jika begitu, pergilah dari hidupku."
"Lun."

Luna bergegas masuk ke dalam rumahnya. Pintu tertutup lalu dia menguncinya. Tangannya masih menempel pada gagang pintu.

Perasaan kita sama, Han. Aku takut suatu hari nanti aku akan kehilanganmu dan perasaan itu. Maafkan aku. Jauh lebih baik ketika kamu pergi sebelum aku benar-benar merasakan hal yang sama dengan yang kamu rasakan. Aku tidak mau hal yang sama terjadi padaku lagi dan aku tidak ingin kehilanganmu.

"Aku mencintaimu, Lun." Terdengar suara Farhan bergetas dan sangat lirih dari luar rumah. "Aku akan pergi jika itu maumu. Terimakasih untuk selama ini. Aku sangat mencintaimu."

Aku juga, Han. Maaf.

***
Terjebak Nostalgia -Raisa
dan aku pernah mengalaminya enam tahun yang lalu.
aku takut hal yang sama terjadi lagi.
namanya masih melekat dan aku takut itu sangat menyakitkan.
masih sama dengan yang dulu.
baek seung joo masih ada disini, dihatiku

Senin, 17 September 2012

Keepsake



Setidaknya hari ini aku masih bisa mengunjungi tempat ini. Meski aku tidak yakin, tapi aku berharap ini kali terakhir aku berada di sini. Kecuali, jika besok pagi tiba-tiba semuanya berubah. Aku menjadi amnesia dan tidak ingat dia lagi. Atau kenyataan ini yang berpaling, tidak ada perempuan itu dan segala kenangan mereka.

"Ini taman Keepsake."
"Kenapa begitu?"
"Taman kenangan. Karena ini taman milik kita. Ini akan menjadi kenangan indah di antara kita." Dilla menatap Athan tajam. Matanya memancarkan ketakjuban kepada orang yang sedang berdiri kokoh didepannya.

Bukan perkara mudah memutuskan hal ini. Namun ribuan alasan telah menyatu dan memenuhi hatiku. Bahkan sampai di ujung ulu jiwaku sudah tidak mampu membendungnya lagi.

"Aku selalu merasa bahagia jika berada di sampingmu seperti ini."
"Aku juga."
Senja mulai meredup. Athan menatap wajah Dilla tepat dari samping. Sementara Dilla tidak berani menolehkan sedikitpun wajahnya. Takut.
"Aku selalu berdoa semoga hari-hari kita selalu seperti ini."
"Semoga saja Tuhan mengabulkan doamu, Than."
"Amin."
"Aku menyukai tawamu." Dilla tersenyum menatap Athan yang sedari tadi menggoda dirinya. "Tapi benar, tawamu sunggu indah. Aku yakin ribuan laki-laki di luar sana pasti akan mengatakan hal itu." 

Nyatanya Tuhan tidak pernah mengabulkan doa yang selalu aku panjatkan. Secuilpun tidak pernah. Tapi aku tidak akan pernah mengeluh, karena aku yakin semua akan indah pada waktunya. Setiap apa yang kau katakan aku pikir itu tanda bahwa kau akan memiliki rasa yang sama denganku. Tapi entah. Aku hanya bisa berdoa, berharap, dan menggunggu semuanya.

"Arin, ini Dilla, sahabat terbaikku."
"Arin."
"Dilla."
"Dill, ini Arin, pacarku."

Benarkan. Tuhan tidak mendengar doaku. Benarkan secuilpun tidak ada yang di dengar. atau jangan-jangan Tuhan telah mendengarkan doaku namun Tuhan tidak mengabulkannya? Ah, kenapa Tuhan? Atau memang doaku itu terlalu muluk? Atau aku memang tidak pantas mendapatkan kebahagiaan.

"Bila hari ini tak seperti yang kau bayangkan yang kau inginkan coba pejamkanlah kedua matamu lupakan apa yang terjadi."

Aku ingat betul apa yang dia katakan padaku lima menit yang lalu saat aku meneteskan air mata pertamaku. Lalu kata-kata bijaknya itu harus ku gunakan untuk menyembuhkan luka yang telah dia gorekan? Mengharukan. 

Taman Keepsake, Selamat tinggal. 
Sampaikan salamku pada Athan jika dia kemari. Katakan padanya aku tidak akan kemari sebelum dunia berpihak kepadaku. 

λλλλ
 
"Bagiku sahabat itu lebih dari segalanya." Athan tersenyum menatapku. "Sama. Aku mencintaimu seperti halnya kau mencintaiku. Tapi persahabatan kita lebih dari itu."

Di taman Keepsake aku menyadari.
Semua harapanku telah ku buang. Persahabatan ini lebih dari segalanya. Bahkan suatu hari nanti tidak ada yang tau apa yang akan terjadi. 

Ini jawaban dari Tuhan atas doaku. Tuhan tidak pernah memberi apa yang aku inginkan, tapi Tuhan selalu memberiku segala yang aku butuhkan. Semuanya indah pada waktunya.



***
Dengar -Gita Gutawa
karena esok tidak pernah bisa dibayangkan

Kamis, 30 Agustus 2012

BACK TO THE PAST [ Mira Fadilla ]

KINAN
“Kinannnnnnnnnnnnnnnnnn…………”
Kini aku merasa tubuhku dingin dan perlahan membeku.
●●●
“Ibu, Kinan belum juga bangun.”
“Sudah, biarkan adikmu tidur.”
Sayup-sayup tersengar suara menyebut namaku. Ibu. Aku yakin itu pasti suara ibu. Aku mengenalinya. Lalu siapa anak laki-laki yang berbincang dengan ibuku? Bukankah di rumah ini ibu hanya memiliki dua anak, aku dan kakakku, dan kami sudah dewasa. Siapa dia? Apa ada tamu datang? Ah, sudahlah.
Seorang membuka gorden kamar. Mataku yang masih memberontak sinar matahari yang mulai merambah kamar. Aku membalik tubuh, menghindari sinar yang benar-benar mulai menghujamku. Seseorang menutup kembali gorden itu. Sinar matahari yang tadi menyorotku kini sudah tertameng gerai-gerai gorden.
“Ibu, kakak itu tadi bergerak saat aku membuka gorden.”
Ah. Anak kecil itu benar-benar mengganggu tidur nyenyakku kali ini. Aku membuka mata. Aku melihat seisi kamarku. Masih sama. Namun di sudut kanan dekat pintu, aku melihat sorang anak kecil bersama ibu.
“Siapa dia, Bu?” Tanyaku pada ibu.
“Dia anak saya Kevin. Saudara ini siapa ya?” Ibu bertanya aku siapa? Ibu tidak mengenaliku?
“Aku Kinan, Bu, anakmu.”
“Kinan?” Anak kecil itu mengeluarkan suaranya dan ekspresi mukanya menunjukkan rasa tak percaya.
“Ya, aku Kinan.” Jawabku dengan lantang dan tegas.
“Anak saya Kinan hanya satu. Umurnya baru tiga tahun. Dia sedang tidur di kamarnya.” Ibu, apa yang terjadi sebenarnya.
Seorang anak perempuan kecil datang. “Dia Kinan, adikku.”
Kinan? Aku Kinan. Bukan dia. Ah, apa yang sebenarnya terjadi?
            Semua orang pergi dari hadapanku. Pintu kamar kembali tertutup. 
Ini rumahku. Ibu itu ibuku. Kinan, itu namaku, bukan nama gadis kecil itu. Kevin, dia kakakku, kakakku sudah besar tidak sekecil itu. Jika memang ini nyata, lalu aku sebenarnya siapa? Ah.
            Suara ketukkan pintu terdengar. Aku melihat ibu masuk dari balik pintu diiringi dua anak kecil itu. Mereka mendekat padaku. Secangkir teh ibu letakkan di meja samping tempat tidurku. Lalu dia tersenyum memandangku. Aku tersenyum memandangnya. Mungkin ibu sudah mengingatku kembali.
            “Minumlah, tenangkan dirimu.” Ibu beranjak dan mulai melangkahkan kakinya.
            “Nama kakak Kinan ya? Namaku juga Kinan, Kak. Ini kakakku, Kevin. Aku sangat menyayanginya. Dia yang selalu menjagaku.”
            Anak itu. Kinan. Dia bilang dia menyayangi Kevin? Ah, tidak mungkin. Aku Kinan. Aku sangat membenci kakakku, Kevin. Ya, meskipun itu baru kusadari saat aku beranjak remaja.
            Aku membenci Kevin. Dia yang merusak masa remajaku. Dia yang membuatku harus malu dan mendekam didalam rumah. Dia. Semua ini akibat perbuatannya dulu. Noda bakar di wajahku ini akibat perbuatannya. Dia yang salah.
            Aku menatap dua anak kecil ini penuh benci. Gelas yang berisi teh panas buatan ibu itu aku ambil. Entah karena emosiku atau benar-benar karena tidak sengaja, aku melempar gelas itu. Air panas yang ada di dalamnya seketika muncrat mengenai muka anak perempuan kecil yang menyebut dirinya Kinan itu. Sementara kakak laki-lakinya, Kevin, memeluk Kinan erat. Ibu datang, menatapku tajam.
            “Ini salahku, aku tidak bisa melindungimu, Kinan.” Kevin menangis menatap Kinan.
            Aku lihat wajah Kinan kecil yang memerah dan meninggalkan luka bakar. Aku melihat Kevin kecil menangis sesunggukan menatap wajah adiknya. Aku melihat luka bakar itu persis luka bakarku. Aku. Aku yang melakukannya sendiri. Ini salahku, Kevin tak pernah terlibat didalamnya.
●●●
            “Aku tidak bisa melindungimu lagi, Kinan. Maaf.” Sayup-sayup kudengar suara Kevin. “Maaf Kinan, kali ini air yang kembali membuatmu akan membenciku.”
            Bukan, Kak. Aku yang salah. Aku tersenggol badan seorang perempuan yang mengaku namanya Kinan.

Senin, 13 Agustus 2012

Untuk Jingga



Sekali lagi jingga membuatku selalu terpana. Jepretan-jepretan hasil kamera yang kumiliki semuanya berisi jingga. Ya, hanya jingga yang selalu datang ketika senja menghampiri duniaku. Jingga, ya benar Jingga yang selalu ada dibenakku. Senja kini akan membawa Jinggaku pergi. Jauh, jauh, dan benar-benar jauh akan meninggalkanku sendiri.

Ketika senja datang aku menemukanmu sudah bersandar di sampingku. Tanganmu memegangi kamera milikku lalu kamu memuputar lensa dan ribuan gambar kamu buat di sana. Lagi-lagi tentang senja. Kali ini kamu sendiri yang mengambilnya. Aku hanya terjatuh dalam bayangan kelam yang akan datang.

Ini keinginanmu sendiri. Mengajakku duduk di taman kampusmu lalu menikmati senja berdua. Lalu lalang orang tak membuatmu berpaling dengan ribuan cerita yang tak berhenti terucap dari bibirmu.

"Berapa menit lagi kamu akan pergi?" tanyamu.
"Tiga hari."
"Tiga hari itu berapa menit?" lagi-lagi kamu menanyakan hal seperti itu. aku tahu, sayang, kamu yang selalu ingin menghitung waktu dengan menit. Aku tahu kamu yang selalu ingin lebih lama berada di sini bersamaku. "Satu jam itu 60 menit, berarti sehari ada 1440 menit, lalu tiga hari ada 4320 menit. berarti aku masih akan lema duduk di sampingmu seperti ini ya, Nif."

Aku hanya tersenyum. Lagi-lagi tersenyum untuk membahagiakanmu. aku tahu hatimu sangat pilu, tapi mau bagaimana lagi, sayang.  Aku terjebak dalam situasi yang tidak ku inginkan.

"Gimana lolos?" tanpa sebuah salam yang selalu kau lontarkan, aku mendengar suaramu yang tidak sperti biasanya. "Aku tahu kamu pasti lolos dan doaku kamu lolos di UGM."
"Aku lolos."
"Selamat ya."
"Tapi bukan UGM." seketika takku dengar lagi suaramu. Sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik, dan didetik kelima aku mendengar sesenggukan dan suara tangisan mulai ada. "Aku tetap akan selalu ada disisimu."

Aku tahu di dalam doamu selalu ada namaku, aku juga selalu tahu kamulah satu-satunya orang yang berdoa agar aku tetap tinggal di sini, di smpingmu, tapi kenyataan Tuhan mnginginkan yang berbeda. Tiga hari lagi aku akan pergi dan kepergianku akan lama. Akan tetapi kamu harus ingat, aku akan kembali ke sisimu setelah itu.

Senja sudah mulai ingin menghilang. Kamu juga memutuskan hal yang sama.

"Kita foto dulu ya, Nif."

Hanya sepucuk senyum yang bisa kuberikan, dan aku berharap senyumku itu mampu mengobati luka yang kugoreskan tepat dipusat hatimu.

"Selamat jalan, ya. Semoga kita akan sama-sama sukses meski dilain tempat dan keadaan." lagi-lagi kamu membubuhkan senyuman manis yang seketika mematikan hatiku. "Saat kembali nanti semoga kamu masih mengingatku dan hari-hari kita."
"Ini bukan hari terakhir. Kita masih bertemu besok dan lusa."
"Setelah itu kamu akan benar-benar pergikan?"
"Katamu kita masih punya waktu yang lama, katamu 4320 menit itu lama."
"Itu tadi, sebelum benakku benar-benar merasa sangat akan kehilangan dirimu."

Lalu kamu pergi. Kamu berlari. Aku hanya bisa bertahan dan bodohnya diriku seharusnya aku berlari mengejarmu.

***

"Ah, kita sama ya, kita sama-sama ambil manajemen ya meskipun aku cuma mampu di UNY dan kamu di UGM." aku selalu bahagia ketika senja datang dan kamu berada disampingku dengan ribuan cerita yang selalu tersaji. "tapi kamu pilihan pertama ambil UI ya? semoga kamu ketrima di UGM ya, biar kita enggak musti jauh-jauhan. Biar kita bisa lihat senja seperti ini."

Lalu perasaan sesal itu muncul. Seharusnya aku tidak pernah mengambil pilihan pertama UI, seharusnya keinginanmulah yang aku jadikan pilihan pertama. Aku menyesal ketika aku harus kehilanganan raut bahagiamu dan senja kita.

Hari ini dua hari setelah kamu berlari dan meninggalkanku di sini. Kini aku kembali melihatmu berjalan dengan langkah gontai dan menatap senja lekat.

"Seharusnya kamu tidak usah mampir kemari." katamu, lalu kamu menyandarkan tubuhmu dipohon yang berdiri kokoh tepat dibelakangmu, "Seharusnya kamu tahu, ini akan membuatku semakin sulit untuk melepasmu pergi dan meraih semua impianmu."

"Impianku ada di sini. Impianku telah jatuh dalam genggamanmu. Aku benar-benar tidak bisa jauh darimu."
"Lalu apa yang akan kita lakukan? Kamu sudah terlanjur akan pergi."
"Aku membatalkan semuanya. Aku akan menetap disini bersamamu."
"Lalu kuliahmu?"
"Aku pindah ke UGM seperti keinginanmu, karena bagiku keinginanmu adalah yang utama." dan senyummu mengembang. Air matamu kau usap perlahan. Matamu menatapku sungguh terlalu lekat.
"Terimakasih.

Kini jam pasirpun  tak mampu menghitung kebersamaan kita. Aku disini, aku akan selalu berada di sini.

"Tetaplah menjadi Jingga untuk setiap senjaku, Jingga."



dibatas mimpi -monita
karena sesuatu yang hanya ada dikepala itu sangat mengganjal
dan ketika semua itu hanya keinginan yang tak akan pernah datang
selamat




Selasa, 03 Juli 2012

Tragedi Laut


Aku ingin membangun rumah di seribu ombak, lalu akan kubuat kedai 1001 mimpi di dalamnya. But, it’s only a beautiful mistake, because it’s not with you.

Semuanya menjadi tidak lagi sempurna. Aku melihatmu berjalan jauh meninggalkanku ketika mulai kurajut angan ini. Bersamanya, perempuan itu, kau berani mendua dan berpaling dariku. 

Apa ini tandanya kau menginginkaku belajar pada pantai yang membiarkan ombak pergi bersama buih dan meninggalkannya? 

Tapi sekali lagi kau memintaku belajar pada pantai, yang selalu percaya pada ombak yang akan terus kembali kepadanya. Perhaps you…you’ll coming home, here, beside me.

Pada akhirnya aku yakin ini akan menjadi sempurna. 



****

Rabu, 13 Juni 2012

Epilog


Dimas,
Aku bingung mau nulis apa. Tapi aku tahu kamu udah paham, Mas. Aku bingung mau ngomong dari bagian yang mana. Tapi sekali lagi aku percaya gak perlu aku ngomong aja kamu udah paham semuanya.
Mas, intinya aku mau minta maaf. Ya, minta maaf atas segala kesalahanku. Semuanya. Aku tahu enggak akan dngan mudah kamu maafin aku. Tapi lagi-ali aku yakin banget tanpa aku minta maafpun kamu akan mencoba maafin aku.
Hari ini aku ngerasa jadi orang paling konyol waktu aku putusin untuk nulis surat ini. Surat yang isinya ucapan minta maaf. Awalnya aku piker, aku akan datang ke rumahmu, ketemu kamu lalu minta maaf secara langsung. Tapi aku cupu untuk masalah ini. Aku takut ketemu kamu. aku takut kamu yang justru minta maaf sama aku. Kamu harus inget, ini bukan salahmu tapi seutuhnya salahku. Ini bukan karena kamu takut ngenalin aku sama Mamamu. Tapi ini kecerobohanku karena berani ninggalin kamu beberapa hari.
Ah, aku benar-benar minta maaf untuk ini. Aku ngerasa bersalah waktu aku harus bilang kita putus. aku juga ngerasa sangat sangat bersalah waktu kamu harus denger aku jadian sama Jo. Tapi ternyata ini semua isi hatiku, Mas. Ya, ternyata selama ini aku jatuh cinta dengan Jo, dan sangat mencintainya. Maafkan aku lagi.
Aku geli ketika aku mengingat kempali perjalanan kita dulu. Aku juga malu karena itu dan aku juga marah dengan diriku sendiri. Dulu aku sangat cenmburu dengan Santi, wanita pujaan mamamu itu, tapi sekarang aku jadi marah karena ternyata harusnya kau yang cemburu dengan Jo bukan aku yang cemburu pada Santi karena tak sedikitpun kau menyukainya saat itu.
Tapi hari ini, aku mengajurkan padamu. Seharusnya kamu turuti saja permintaan Mamamu itu. Santi cantik. Dia sangat cocok denganmu. Bahkan mungkin saja kau akan bahagia bersamanya lebih dari saat bersamaku.
Ah, terlalu panjang aku menulis ini.
Sekali lagi aku minta maaf atas semua ini.
Maafkan aku.

Emi.


            “Apa itu, Sayang?” Jo tiba-tiba datang dan mengagetkan Emi. Tangan Emi bergerak cepat melipat lembaran itu dan memasukkannya kedalam amplop. Sebelum Jo sempat membacanya, Emi sudah terlebih dahulu melekatkan lem pada amplop dan memutupnya rapat. “Surat untuk siapa?”
            “Ini untuk Ajeng. Aku harus mengirimkan surat ucapan terimakasih ini untuknya.” Dengan sigap Emi menyusun kata-kata itu.
            “Hah? Buat Ajeng kok harus kirim surat? Kan bisa lewat SMS, bisa telpon, emailkan juga ada. Kenapa harus pakai kirim surat segala?”
            “Biar kelihatan romantis.”
            Emi berjalan menuju ambang pintu, Jo mengikutinya dari belakang. Mobil sedan hitam baru milik Jo sudah bersiap mengantarnya bekerja. Hari ini Jo akan berangkat ke Bandung. Aku berharap dia pulang membawa brownis kesukaanku.
            “Aku pergi dulu, Sayang.” Satu kecupan mendarat tepat di kening Emi. Senyum simpul dari Emi mengantar Jo meninggalkan rumah.
            Emi bergegas menutup pintu dan menyambangi kamar Jo, mengambil handphonenya.
           
            Aku tunggu di Amore Café jam lima hari ini. Terimakasih.
            Terkirim: Dimas
           
●●●
            “Hei.” Sapa Emi pada Dimas. Masih sperti dulu, Dimas masih terlihat sangat seksi dari pandangan Emi. “Terimaksih mau datang.”
            “Sebenarnya ada apa ini? Apa Jo tidak marah kau  menemuiku di sini?” Dimas menarik kursinya. Lalu duduk.
            “Jo sedang di Bandung.” Emi memasukkan tangannya kedalam tas rajut yang dia dudukkan di pangkuannya sedari tadi. “Ini untukmu.”
            Ketika tangan Emi dijulurkan, Dimas terlihat begitu kaget. Dimas tak tahu apa maksudnya. Di tangan Emi tergenggam sebuah amplop kecil berwarna pink.
            “Apa ini?” Dimas mengambil amplop pink itu dan memandangnya lekat. Ataukah ini artinya Emi masih mencintaiku? Gumam Dimas dalam hati.
            “Terima saja.” Emi kembali menutup tas rajutnya. Lalu dia berdiri dari duduknya. “Terimakasih, Mas. Untuk semuanya.”
            Emi pergi menjauh. Bayangannya kini sudah tak bisa diraih oleh Dimas. Perlahan dia membuka amplop itu. Dibacanya satu persatu tulisan tangan Emi.
            “Ini Epilog.”
●●●
Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead."
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead,
Yeah.