Sabtu, 10 November 2012

Jatuh, cinta!




ya perlahan punggungmu pun ikut menghilang dari sudut mataku. Sekali lagi. Ini murni kesalahanku. Fatal. Sangat sulit untuk membuatmu kembali ke sampingku lagi. Bahkan kini dengan satu matapun aku mampu melihat kamu benar mencoba menghilang dariku.

Maaf. Aku tidak tahu benar bagaimana caranya membuatmu memandangku lagi. Membuatmu memanggilku sayang. Membuatmu benar-benar mabuk karena cintaku. Aku ingin semuanya kembali lagi. Kembali seperti dulu. Seperti ketika kau benar-benar berada satu langkah dibelakangku untuk menjagaku. Atau ketika aku merasa aman selalu berjalan didepanmu. Didepan mata pengelihatanmu, tanpa benteng apapun.

"Lihatlah senja kali ini. Indah." Kata Rayya.
 "Ya, seindah dirimu." Fathan menatap sudut mata kanan Rayya.
 "Dua burung itu juga tak kalah indahnya. Terbang bersama. Sepertinya mereka sangat bergembira memutari langit senja yang indah hanya berdua." Rayya membentuk tangannya menyerupai burung terbang. Matanya menggeliat mengikuti tubuh dua binatang berwarna putih itu mengelilingi langit indah ketika senja tak kunjung menghilang.
 "Seperti kita sekarang. Burung-burung itu juga mengatakan mereka sedang melihat dua orang yang sedang menikmati senja. Mereka menatap kita dan berkata indah. Ya, seindah mereka." Fathan merangkulkan tangannya ke pundak Rayya.

Lengang. Rayya menatap lekat kembali dua burung itu. Namun sesekali sudut matanya melirik ke tangan Fathan yang sedari tadi menyemtuh pundaknya. Hangat. Rayya merasakan kehangatan mendalam dalam dirinya. Keindahan selalu melekat padanya ketika dia berada disamping laki-laki itu. Fathan. Memang hanya Fathan yang selalu membuatnya terbang seperti burung-burung itu setiap senja.

"Lihat burung itu, Than. Mereka terbang berlawanan arah." Tangan Rayya menunjuk pada kedua burung yang sedari tadi menghiasi senja.
"Iya."
"Apa kita juga harus pergi berlawanan arah?" Suara Rayya membuat Fathan tertegun dan suaranya seperti mendadak menghilang. Tatapan kosongnya mengarah tepat pada mata Rayya.
"Tidak."
"Sebaiknya memang kita harus pergi berlawanan arah."
"Tidak. Kita akan selalu berjalan beriringan."
"Tapi kedua burung tadi berpisah."
"Kita bukan mereka."
"Jangan pernah cintai aku lagi, Than."

Semuanya terasa menyakitkan. Ketika aku merasa aku tidak ingin terjatuh dan terpuruk kehilanganmu, aku justru melakukan sesuatu yang membuatku benar-benar akan kehilanganmu. Aku salah. Aku melakukan kesalahan lagi. Satu. Kali ini hanya satu. Tapi esok, lusa, dan seterusnya akan bertambah banyak dan aku akan kehilanganmu semakin cepat.

Bukan maksudku seperti itu. Aku hanya takut, ketika kamu benar-benar mencintaiku tapi aku tidak membalasnya dengan baik. Aku takut mengecewakanmu. Aku takut, sayang. Aku tidak pernah membayangkan ketika suatu saat aku harus kehilanganmu dimana cinta dalam hati ini sudah benar-benar tumbuh dan bermekaran. Aku tidak ingin. Aku tidak mau. Sebenarnya aku tidak ingin kehilanganmu.

"Than, maaf."
"Kenapa?"
"Entah."
"Kamu dulu yang pernah bilang aku tidak boleh mencintaimu. Tapi apa yang terjadi? Justru setiap kali aku sedang mencoba, kamu datang dan membuatku semakin dalam mencintaimu."
"Maaf."
"Bahkan hanya dengan mendengar kata maaf darimu, hatiku seolah tergetar dan semakin ingin memilikimu."
"Maafkan aku."
"Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Tetap harus melupakanmu dan pergi atau aku sudah diberi ijin untuk tetap mencintaimu?"

 
Lalu kini apa yang harus aku katakan? Tetap mempertahankanmu atau aku segera melewatkanmu? Bantu aku. Aku melakukan semuanya hanya untukmu.

"Maaf, aku tetap harus pergi."

***
Tangga -Terbaik Untukmu
Aku ingin kau tetap di sini bersamaku, Jangan pergi
Kadang aku merasa sangat egois saat menyuruhmu tetap disini
Tapi percayalah akulah yang terbaik :)

Minggu, 04 November 2012

aku suka

ini waktunya bermimpi
satu lagi kenangan yang datang dan menyapaku
tentang dia
masih selalu tentang dia

seperti Tuhan memberiku kesempatan
mungkin hanya untuk memandang
tapi aku suka

aku masih suka
aku akan selalu suka
aku memang suka

wajahnya
ya
aku suka dirinya
aku suka, Tuhan.

goodbye


Senja menimbulkan kesunyian diantara keduanya. Matahari masih enggan pergi. Luna masih saja terdiam dengan raut muka tidak seperti biasanya. Sementara Farhan masih saja menatap kedepan. Taman kota sore itu sangat riuh, namun situasi itu tidak membuat Luna dan Farhan turut meramaikannya. Bungkam. Tidak seorang dari mereka berdua mampu berkata-kata.

"Kenapa, Lun?" Farhan mulai berani mengeluarkan suaranya. "Aku masih tidak mengerti."
"Intinya, kamu jangan pernah suka denganku." Luna menyenderkan kepalanya dibahu Farhan. Cercah matahari yang menguning terlihat sedikit redup dan mulai memudar.
"Kenapa, Lun? Apa alasannya?" Tangan Farhan mulai mengelus rambut indah Luna.
"Karena kamu, Farhan."
"Lalu aku harus bagaimana? Lalu harus aku apakan perrasaan ini?"
"Buang." Luna kembali menegakkan tubuhnya. Dia berdiri dan berjalan menuju sebuah pohon besar tempat dia meletakkan ranselnya.
"Bagaimana caranya aku membuang perasaan ini?" Farhan berjalan mengikuti langkah Luna.
"Aku tidak tahu." Luna berjalan lebih cepat dan hilang begitu saja dari hadapan Farhan.

Matahari masih saja berwarna orange. Farhan tidak mampu lagi melihat sosok Luna, gadis yang selama ini selalu mengisi hari-harinya. Luna. Ya, Farhan sangat mencintai Luna. Sangat.

***

"Lun, aku mau tanya sesuatu." Aku ingat sekali kata-kata itu. Kata-kata yang membuatku berpikir seribu kali untuk menjawabnya. 
"Kamu tau, Han? Aku pernah bilang, jika kamu bertanya padaku, kamu harus memilih waktu yang tepat."
"Aku ingat."
"Apa kamu pikir ini waktu yang tepat?"
"Ya."
Kamu tahu, Han, saat itu aku merasa bukan waktu yang tepat.
"Apa aku boleh suka denganmu?"
Dan benar, Han. Itu bukan waktu yang tepat.

***

"Intinya masih sama, jangan pernah kamu suka denganku." Luna menatap Farhan yang kala itu sedang duduk di teras rumah Luna.
"Kenapa, Lun. Beri aku satu alasan yang kuat, agar aku bisa menerima permintaanmu itu." Farhan menatap mata Luna dengan lekat.
"Karena kamu, Han."
"Aku kenapa, Lun?"
"Aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku takut kamu pergi dari sini, suatu hari nanti."
"Tidak akan, Lun. Kamu harus percaya denganku."
"Tidak." Luna berdiri menatap Farhan. "Aku takut kehilanganmu."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Buang perasaan itu. Untukku."
"Tidak bisa."
"Jika begitu, pergilah dari hidupku."
"Lun."

Luna bergegas masuk ke dalam rumahnya. Pintu tertutup lalu dia menguncinya. Tangannya masih menempel pada gagang pintu.

Perasaan kita sama, Han. Aku takut suatu hari nanti aku akan kehilanganmu dan perasaan itu. Maafkan aku. Jauh lebih baik ketika kamu pergi sebelum aku benar-benar merasakan hal yang sama dengan yang kamu rasakan. Aku tidak mau hal yang sama terjadi padaku lagi dan aku tidak ingin kehilanganmu.

"Aku mencintaimu, Lun." Terdengar suara Farhan bergetas dan sangat lirih dari luar rumah. "Aku akan pergi jika itu maumu. Terimakasih untuk selama ini. Aku sangat mencintaimu."

Aku juga, Han. Maaf.

***
Terjebak Nostalgia -Raisa
dan aku pernah mengalaminya enam tahun yang lalu.
aku takut hal yang sama terjadi lagi.
namanya masih melekat dan aku takut itu sangat menyakitkan.
masih sama dengan yang dulu.
baek seung joo masih ada disini, dihatiku

Jumat, 02 November 2012

this is the picture

dan setelah otak gue dipenuhi dengan buku setiap malam, akhirnya malam ini gue mulai terbebas dari yang namanya uts dan buku dengan puluhan bab --" terimakasih ya Allah. Dan dengan kebahagiaan yang menari-nari *yes* gue berhasil menyambangi laptop dan menghidupkan wifi. Alhasil mulai menulis di sini lagi.

gak sengaja banget tadi tiba-tiba iseng buka foto-foto di facebook dan nemuin foto yang di uplot ismi dulu. Foto yang dulu pernah jadi kontrofersi di kelas dan bikin gue jadi ngeekkk :p dan selama tiga tahun gosip itu merebak luas. dan sampe sekarang masih aja menjadi-jadi

this is the picture
itu foto gue sama dia *pip* hahaha, itu foto yang nyuri ismi. itu kejadiannya waktu pelajaran apa gue lupa selupa-lupanya *sok lupa* dan gue lagi ngobrol sama onto. dan gue enggak pernah tau ada yang moto dan gue baru sadar waktu foto itu sudah tersebar di facebook grup -O-

dan tadi waktu gue nemu lagi foto itu. bener. gue langsung sms onto :p kangen sekali sama dia :)))
and now, i want to met him :3
i miss you so

Jumat, 26 Oktober 2012

ya


benar.
aku tidak bisa menjamahnya.
hanya khayalan belaka.
terimakasih.

Sabtu, 06 Oktober 2012

angin

kalau boleh aku ingin manjadi angin
tidak pernah terlihat namun mampu menyejukkan
aku tidak ingin menjadi pohon beringin
meskipun meneduhkan tapi terlalu menakutkan

Minggu, 30 September 2012

Octoberwish

Wake Me Up When September Ends...................

tinggal lima menit lagi september akan berakhir.
october.

I have many wishes

*magang. semoga gue ketrima magang di kantor itu
*author. semoga oktober ini bisa membawa pencerahan buat gue terus nulis,nulis,dan nulis. semoga novel kelar.
*study. semoga mid semester yang pertama di kuliahan ini berjalan dengan sukses. setidaknya nilai gue harus di atas rata-rata.
*sukses. maunya gue harus sukses dunia dan akhirat.
*anfield. sedikit lebay, tapi gue pengen banget bisa terbang ke anfield dan nonton liverpool.

Sabtu, 29 September 2012

Gift From Mr.Kim, Aida MA


Mr.Kim Tae Wo. Dilihat dari namanya sudah teridentifikasi bahwa Mr. Kim ini adalah keturunan Korea. Bisa jadi dia orang asli korea ataupun juga hanya keturunan korea. Namun dari bentuk wajah yang tergambar dalam cover buku Looking For Mr. Kim ini, di bayangan saya, Mr. Kim adalah orang korea asli. Dia memiliki bentuk wajah panjang, seperti oval namun di area dahi dan dagu agak panjang. Kulitnya jelas putih dan matanya pasti sipit. Bola matanya berwarna coklat tua dengan alis mata yang tidak tebal. Mulutnya kecil, hidungnya kecil dan Lehernya tidak terlalu panjang. Model rambut Mr. Kim cepak namun rapi. Tinggi badannya sekitar 180cm dengan berat 60kg. Dia terlihat tidak gemuk dan juga tidak kurus. Tubuhnya sangat proporsonal. 

Mr. Kim ini berusia 35 tahun. Dia seorang pekerja keras. Dia adalah seorang menejer sebuah perusahaan besar di korea. Setiap hari dia menggunakan stelan jas yang rapi dan dasi yang padu. Dia bukan seorang yang mudah marah, namun dia terlalu idealis. Mr. Kim selalu terlihat berwibawa. Dia bukan orang yang mudah putus asa. Mr. Kim seorang yang pemberani.

Mr. Kim memiliki sebuah rumah yang sangat besar dengan pagar-pagar besi mengelilingi rumahnya. Rumah Mr. Kim memiliki arsitektur yang sangat indah dan penempatan segala barangnya sangat teratur. Rumah Mr. Kim dirancang sederhana dan tanpa banyak pembatas didalamnya. Mr. Kim memiliki dua buah mobil mewah yang selalu terparkir di dalam rumahnya. Dia juga menanami pohon-pohon di sekeliling rumahnya.

Mr. Kim memiliki hobi jalan-jalan. Saat usianya masih muda, dia senang sekali berjalan-jalan ke luar negri. Karena dia keturunan orang kaya, maka dari itu dia dengan mudah dapat berjalan-jalan keluar negri. Hampir seluruh dunia pernah dia kunjungi, dengan bakat berbahasa asing yang dia miliki dia melakukan itu.

Itu dia yang langsung terlintas di otak saya ketika saya mendengar nama Mr. Kim Tae Wo, sosok misterius yang ada di balik cover novel Looking For Mr. Kim dan dari beberapa resendi yang saya baca. 

***
kenapa saya tiba-tiba menulis tentang Mr. Kim? 
soalnya baru saja saya blog walking dan menemukan give away dari mbak Aida.
semoga apa yang saya pikirkan tentang Mr. Kim benar
dan semoga Mr. Kim adalah orang yang seperti ada di otak saya :))
-dilla-